Media Pembelajaran dalam Pendidikan Jarak Jauh
Dewasa ini sistem pendidikan jarak
jauh telah berkembang pesat dan menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan
modern. Berbagai negara di dunia telah menjadikan sistem pendidikan jarak jauh
ini sebagai salah satu alternatif dalam upaya memperluas kesempatan masyarakat
memperoleh pendidikan. Di Indonesia, penyelenggaraan sistem pendidikan
jarak jauh telah memiliki landasan legal formal dengan dimasukkannya sistem ini
ke dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional.
Seiring dengan pesatnya kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi, maka pendidikan
jarak jauhpun mengalami perkembangan. Dengan memanfaatkan teknologi
maka daya jangkaunya menjadi semakin luas, dan efektifitasnya dalam
menyampaikan materi pembelajaran juga semakin meningkat. Pada saat ini system
pendidikan jarak jauh telah mengintegrasikan pula berbagai jenis media yang
kemampuan interaktifnya semakin meningkat.
Dalam
penyelenggaraan Sistem Pendidikan Jarak Jauh (SPJJ), penggunaan media
tampaknya telah menjadi keharusan. Dapat dikatakan bahwa sebagian
besar bahan ajar pada SPJJ disampaikan melalui berbagai jenis media, baik cetak
maupun non cetak. Sepanjnag sejarah penyelenggaraan pendidikan jarak
jauh, media telah digunakan sebagai sarana penyampai materi ajar.
Adanya keterpisahan antara pengajar dengan peserta didik , maka
diperlukan media sebagai sarana komunikasi yang menjembatani
antara pengajar dengan peserta didik. Kehadiran media inilah yang menjadi
salah satu ciri kesamaan diantara institusi penyelenggara SPJJ di semua tempat.
Sementara yang membedakan institusi yang satu dengan yang lain adalah pilihan
jenis media yang digunakannya. Variasi penggunaan media antar institusi
penyelenggara PJJ sangat beragam mengingat banyaknya jenis media yang bisa
dimanfaatkan mulai media yang sederhana sampai yang canggih. Berikut akan
dibahas secara sekilas beberapa jenis media pembelajaran yang sering digunakan
dalam sistem pendidikan jarak jauhm (PJJ).
a.
Media
Cetak
Di antara begitu banyak media baru
dan canggih, ternyata media cetak masih menduduki tempat pertama dalam
pendidikan jarak jauh. Bahan ajar cetak dapat berwujud dalam berbagai bentuk,
seperti: buku materi pokok, buku ketiga, buku panduan belajar, pamflet, brosur,
peta, chart. Bentuk cetakan ini tidak hanya berupa tulisan, tetapi
dapat juga menampilkan gambar-gambar, foto, grafik, tabel, dll. Dari sekian
banyak jenis media cetak tersebut, modul merupakan bahan ajar cetak utama yang
digunakan dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh. Modul telah dirancang dan
dikembangkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan peserta didik dapat belajar
dengan sekecil mungkin mendapat bantuan dari guru/tutor.
Keunggulan Media Cetak untuk PJJ
Media cetak memiliki keunggulan
sebagai berikut:
§ Mampu menyampaikan berbagai informasi yang berkaitan dengan
fakta maupun konsep abstrak yang bersifat pengetahuan, ketrampilan ataupun
sikap.
§ Dapat digunakan kapan saja (pagi hari, siang hari, malam
hari) dan dimana saja (seperti di rumah, di kendaraan umum, terminal atau
tempat lain yang memungkinkan).
§
Penggunaannya mudah, tidak
bergantung kepada peralatan lain. Kemasan media cetak umumnya ringan dan kecil
memungkinkan peserta didik dengan mudah membawanya ke mana saja mereka pergi.
§
Selain bentuk fisiknya mudah dibawa,
penataan atau teknik penyajian materinya pun mudah dipelajari. Misalnya, teknik
penyajian sepeti penulisan indek, daftar isi, penggunaan halaman, bab-bab,
judul maupun subjudul.
Pemanfaatan
Media Cetak dalam Pendidikan Jarak Jauh
Media cetak, khususnya modul
merupakan media utama yang digunakan dalam pendidikan jarak jauh. Beberapa hal
yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan media cetak untuk pendidikan jarak
jauh antara lain adalah sebagai beirkut:
§
Pastikan bahwa semua modul dan atau
media cetak lain seperti foster, lembar kerja dan lain-lain yang dibutuhkan
untuk semua mata ajar telah dirancang dan diproduksi sesuai dengan prinsip
pengembangan bahan belajar mandiri.
§
Pastikan bahwa modul-modul yang
dibutuhkan tersebut didistribusikan dengan baik kepada seluruh tutor dan
peserta didik sesuai dengan mata ajar yang diambilnya.
§
Pastikan para tutor telah memahami
semua modul sesuai dengan mata ajar yang dibinanya untuk memudahkan memberikan
bantuan konsultasi kepada peserta didiknya.
§
Beri kesempatan kepada peserta didik
untuk mengukur keberhasilan belajarnya (ujian) secara fleksibel sesuai dengan
kecepatan belajarnya masing-masing.
§
Pastikan peserta didik memperoleh
umpan balik sesegera mungkin.
b. Media
Massa/Siar/Tayang
Pemanfaatan media massa dalam SPJJ
seperti siaran radio dan siaran televisi merupakan sebuah alternatif
penyampaian bahan ajar yang cukup efektif larena bersifat terbuka dan berdaya
jangkau luas. Penggunaan media massa sebagai alat pendidikan tidak saja
menguntungkan peserta didik yang terdaftar dalam institusi pendidikan jarak
jauh, tetapi masyarakat umum yang tertarik untuk memperluas wawasan
pengetahuannya dapat pula mengikuti program yang ditayangkan atau
disiarkan.
1). Siaran
Radio
Hampir semua orang telah mengenal
radio sebagai sebuah alat yang mampu menyampaikan berbagai informasi ,
melantunkan musik dan lagu, tetapi tidak semua orang mengetahui bahwa program
radio disiarkan melalui gelombang elektromagnetik. Gelombang-gelombang ini
diumpamankan sebagai jalan raya (highways) yang tidak terlihat serta mepunyai
kelebaran yang bervariasi. Jalan raya ini diindentifikasikan sebagai frekuensi
AM maupun FM yang mengacu siaran peraturan dan persetujuan internasional. Daya
pancar siaran radio sangat bergantung kepada kekuatan transmitter serta
frekuensi yang digunakan. Dengan kekuatan tertentu, transmitter mampu
memacarkan siaran pada lokasi tertentu. Sementara untuk dapat menebus daerah
lain yang berada di uar daerah pancarnya, diperlukan stasiun relay. Sistem
Relay mampu menghubungkan satu transmitter dengan stasiun lainnya sehingga
mempeluas daerah jangkauan daerah siaran.
Walaupun mampu memperluas jangkauaan
daerah siaran, penggunaan sistem relay ini tidak dapat menjangkau daerah daerah
tertentu yang dikenal dengan istilah blank spot area. Dengan kemajuan teknologi
yang pesat, keterbatasan ini dapat diatasi dengan penyiaran radio melalui
satelit siaran langsung (Radio-SSL). Secara teknis, siaran radio melalui SSL
akan diterima dengan baik karena tidak mengalami pengurangan mutu seperti yang
pada umumnya dialami bila menggunakan stasiun relay. Satu satunya kendala dari
penggunaan siaran radio-SSL ini terletak pada pengadaan alat penerima khusus
yang harganya tidak murah. Selain karakteristik teknik seperti yang telah
dijelaskan, media radio juga memiliki karakteristik lain, baik dari segi
keunggulan maupun keterbatasannya.
Keunggulan:
-
Dibandingkan dengan media komunikasi
massa lain misalnya televisi, biaya penyelenggaraan media radio jauh
lebih murah dengan kemampuan jangkauan daerah yang sama luasnya.
-
Keunggulan lain dari media
dengar ini adalah kemampuannya untuk menstimulasi imajinasi pendengae dan cukup
fleksibel dalam menyajikan informasi dalam berbagai bentuk sajian seperti
dramatisasi, diskusi, ceramah atau dialog. Kemampuan ini tentunya sangat
berperan dalam penyelenggaraan SPJJ.
Keterbatasan :
-
Keterbatasan utama media radio
terletak pada karakteristik media ini yang dikenal sebagai media seklali
dengar, artinya bila pendengar tidak mendengar atau tidak mengerti informasi
yang disajikan, maka informasi tersebut tidak dapat didengar lang kecuali
melalui siaran ulangan.
-
Keterbatasan lain dalam pemanfaatan
media radio pada SPJJ adalah masalah jadwal siaran atau rekaman program bagi
para pengajar. Umumnya para pengajar sulit mengikuti jadwal ketat yang
diberikan oleh stasiun siaran atau studio rekaman.
-
Interaktivitas yang
sangat dibutuhkan dalam kegiatan tutorial pada SPJJ juga merupakan keterbatasan
dari media radio. Tingkat interaktivitas media radio sangat rendah karena
pada dasarnya media radio merupakan media komunikasi satu arah. Perkembangan
teknologi telah memungkinkan adanya interaksi dalam tingkat tertentu dengan
menggunakan telepon. Hal ini memberikan warna baru dalam penyelenggaraan siaran
langsung yang bersifat interaktif dapat dilakukan, beberapa penyelanggara
SPJJ mengalami kendala, seperti mahalnya biaya penggunaan
telpon dan sulitnya mengatur siaran langsung.
Bentuk
Penyajian Program Radio
Program program yang disajikan
melalui radio dalam SPJJ harus dikembangkan semenarik mungkin. Hal ini
mengingat bahwa radio pada dasarnya adalah media satu arah dan sekali
dengar. Dengan karakteristik tersebut, bentuk penyajian program radio sangat
berperan untuk dapat memikat peserta didik mendengarkan materi maupun
informasi yang disampaikan. Perancang program radio untuk SPJJ perlu
memperhatikan bentuk sajian yang dapat digunakan sesuai dengan materi yang akan
disampaikan serta memberikan variasi penampilan. Bentuk-bentuk penyajian yang
dapat dipilih antara lain:
- Ceramah atau kuliah
Bentuk ceramah atau kuliah ini baisanya disajikan oleh satu
orang dosen/pengajar atau pembocara yang ahli dalam materi tertentu. Umumnya,
bentuk penyajian ini membosankan , karena peserta didik hanya mendengarkan satu
jenis suara selama 15 – 20 menit. Penyajian ini akan terasa lebih melelahkan
apabila penyajinya kurang mampu “berbicara” secara menarik. Sebaiknya, bila
penyaji mampu seolah-olah berbicara langsung dengan peserta didik,
suaranya menyakinkan , tempo dan intonansinya tepat, bentuk ceramah masih
dapat memikat peserta didik. Berdasarkan pada pengalaman serta
pengamatan dalam proses produksi parogram radio dengan bentuk penyajian tunggal
ini, tidak banyak orang atau pengajar/dosen yang mapu berbiocara seorang diri
di depan mikropon.
-
Dialog
Bentuk penyajian lain yang dapat digunakan dalam mengemas
materi ajar dalam SPJJ adalah dialog. Bentuk penyajian ini menghadirkan lebih
dari satu orang untuk membahas sebuah materi. Para pembicara umumnya mempunyai
kedudukan yang sama.
-
Wawancara
Bentuk penyajian ini dapat menghadirkan satu, dua atau
tiga pembiocara dengan seorang pewancara. Dengan dua atau tiga pembicara,
pada umumnya bentuk penyajian ini mengangkat satu topik pembicaraan yang
dilihat dari sudut pandang yang berbeda dari tiap-tiap pembicara. Tetapi, bila
bentuk wawancara ini hanya menghadirkan satu pembicara, umumnya topik
pembicaraan hanya dilihat dari pengetahuan, pengalaman atau sudut pandang sang
pembicara.
-
Drama
Sebuah alternatif lain untuk menyampaikan materi ajar kepada
peserta didik melalui program radio adalah melalui drama. Penyyajian dalam
bentuk ini relatif lebih sulit, karena membutuhkan persiapan yang lebih matang,
mulai dari naskah sampai pada produksinya. Selain itu, tidak semua materi
pelajaran dapat disajikan dalam bentuk drama. Materi-materi yang berkaitan
dengan sikap, perasaan, ilmu sosial, kemungkinan dapat diangkat dan dikemas
dalam bentuk ini.
-
Feature
Bentuk penyajian yang lebih atraktif adalah feature yang
merupakan bentuk sajian yang di dalamnya terdapat berbagai sajian. Dalam
program feature, di dalamnya terdapat dialog, wawancara, dan drama yang mengacu
pada topik bahasan tertentu.
-
Majalah
Seperti layaknya sebuah majalah, bentuk penyajian majalah
udara menampilkan berbagai informasi dalam berbagai bentuk sajian. Dalam SPJJ,
bentuk majalah udara ini sangat cocok untuk mengemas berbagai informasi yang perlu
disampaikan kepada peserta didik melalui radio, misalnya informasi mengenal
ujian, pembelian bahan ajar, wisuda, regristrasi, atau informasi lain yang
perlu diketahui oleh peserta didik.
Dari sekian banyak bentuk peyajian
yang dapat digunakan dalam SPJJ, belum ada penelitian yang mengkaji efektivitas
dari masing masing bentuk penyajian. Walaupun demikian bentuk penyajian
tersebut dapat dijadikan alternatif penyajian bagi para perancang bahan ajar
dalam institusi penyelenggara SPJJ.
Pemanfaatan
Media Radio pada SPJJ
Dalam hampir semua proses
pendidikan, jenis suara yang paling banyak digunakan adlah suara manusia. Suara
manusia mampu memberikan intonasi, tempo, volume, dan penekanan yang kesemuanya
sangat berarti dalam proses pembelajaran. Keunggulan yang dimiliki oleh suara
manusia ini mampu ditransfer melalui media radio yang dikenal sebagai media
yang murah dan mudah diakses. Perpaduan keunggulan tersebut cukup untuk menjadi
alasan pemanfaatan media radio dalam sebuah institusi penyelengaraan SPJJ.
Di negara-negar maju misalnya,
hampir semua orang memiliki radio. Sementara di negara-negara berkembang radio
dikatagorikan sebagai barang yang cukup terjangkau harganya dan mudah didapat.
Hal ini menunjukkan bahwa radio merupakan sebuah media yang memiliki
aksesibilitas tinggi. Aksesibilitas yang tinggi terhadap media radio ini
haruslah dicermati sebagai peluang bagi setiap penyelenggara SPJJ untuk
diberdayakan sebagai alat mentransfer ilmu dan informasi kepada peserta didik.
Setiap peluang akan menjadi bermakna dan berhasil guna bila dapat dimanfaatkan
dengan baik.
Pertimbangan lain yang mengunggulkan
media radio dalam proses pengajaran dan pembelajaran antara lain adalah
kemampuan media ini mengaitkan materi ajar pada mata kuliah tertentu dengan
kejadian yang baru terjadi. Hal ini sangat penting dalampengajaran bagi peserta
didik dewasa. Selain itu, media radio mampu menyajikan perubahan yang
cepat dari ilmu pengetahuan yang tidak mampu diakomodasi dalam bahan ajar cetak
yang sudah tersusun.
Walaupun media radio mempunyai
beberapa keunggulan dalam proses pembelajaran dan pengajaran, namun kelemahan
media ini perlu pula dicermati. Walaupun program radio sangat memotivasi tetapi
trnyata peserta didik mengalami kesulitan belajar melalui radio. Pada umumnya
peserta didik mengalami kesulitan berkonsentrasi mendengarkan program yang
berdurasi 20 menit. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesanggupan media radio
sebagai media pembelajaran dan pengajaran pada SPJJ antara lain berkaitan
dengan jenis materi belajar yang disampaikan, materi yang bersifat konkret
lebih mudah diterima. Selain itu, faktor penggunaan bahasa yang sederhana dan
kosakata yang sudah dikenal, pemberian contoh-contoh baik melalui dramatisasi
maupun kasuis-kasus juga sangat berpengaruh kepada keberhasilan penggunaan
media radio. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah durasi program. Durasi
sebaiknya tidak lebih dari 15 menit atau bahkan 10 menit.
Selain fungsi sebagai media
pengajaran dan pembelajaran dalam SPJJ, media radio juga sangat populer
digunakan sebagai media untuk menyampaikan informasi-informasi mengenai ujian,
registrasi, dan publikasi bagi institusi untuk menarik perhatian peserta baru.
Dalam SPJJ, media komunikasi yang murah dan cepat, seperti radio mempunyai kontribusi
yang berarti untuk menjadi jembatan antara pengelola dan peserta didik.
Permasalahan lain yang kerap timbul
dalam pemanfaatan media radio dalam SPJJ adalah bagaimana peserta didik dapat
mendengarkan program-program yang disiarkan pada waktu yang sudah dijadwalkan.
Hal ini memang merupakan persoalan yang cukup pelik dalam sebuah institusi SPJJ
karena kendali terhadap waktu belajar peserta didik terletak sepenuhnya di
tangan peserta didik sendiri. Tetapi, dalam hal pemanfaatan media radio peserta
didik tidak mempunyai kendali terhadap stasiun siaran, merekalah yang harus
menyesuaikan diri dengan jadwal yang diberikan. Dalam SPJJ, kondisi ini
ternyata menjadi masalah bagi sebagian peserta. Pemberian jadwal siaran secara
teratur kepada peserta didik tidaklah cukup. Penyiaran program yang sama
sebanyak dua atau tiga kali pada waktu yang berbeda akan memberikan kesempatan
yang lebihh besar bagi peserta didik untuk menyesuaikan jadwal kegiatan mereka
dengan jadwal siaran yang ditawarkan oleh institusi penyelenggara SPJJ.
Pertimbangan lain yang perlu
dipikirkan dalam pemanfaatan media radio oleh institusi penyelenggaraan SPJJ
adalah akses untuk memproduksi dan mendistribusikan materi ajar
yang dikemas dalam program radio. Walaupun peserta didik mempunyai kases tinggi
untuk memanfaatkan siaran radio, tetapi apabila institusi penyelenggara SPJJ
tidak mempunyai akses terhadap pelaksanaan produksi dan penyiaran program, maka
akses yang dimiliki peserta didik pun akan sia-sia. Institusi penyelenggara
SPJJ mungkin memiliki peralatan produksi program, bahkan stasiun pemancar
sendiri. Jika hal ini terjadi, berarti institusi mempunyai akses internal penuh
untuk memanfaatkan media radio. Sebaliknya, bila institusi tersebut tidak
memiliki peralatan produksi maupun stasiun penyiaran sendiri, maka
institusi tersebut harus mempunyai akses eksternal, yaitu akses terhadap
lembaga lain yang mampu memproduksi maupun memancarkan program radio.
2) Siaran
Televisi
Televisi dikenal sebagai media yang
sangat kaya yang mapu menyajikan beragam informasi dalam bentuk suara dan
gambar secara bersamaan. Keunggulan media televisi yang ditemukan pada tahun
1926 ini dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, baik pendidikan yang
bersifat konvensional maupun pendidikan jarak jauh. Dengan perkembangan
teknologi yang luar biasa, sistem pemancaran dan penerimaan tayangan televisi
dapat dilakukan dengan berbagai macam sistem, antara lain : broadcast transmission,
closed-circuit television (CCTV), Tv-Cable, satellite transmission. Walaupun sistem pemancaran dan penerimaan siaran televisi
tidak berpengaruh kepada informasi atau program yang disiarkan, masing-masing
sistem memiliki cara kerja yang berlainan. Untuk memberi gambaran umum, secara
selintas sistem penayangan dari masing-masing akan disinggung sedikit.
Sistem
Penayangan Siaran Televisi
Siaran televisi yang dapat diterima
di rumah-rumah atau di tempat lain hanya dengan menggunakan pesawat televisi
standar adalah jenis penayangan siaran dengan menggunakan sistem broadcast transmission. Penayangan televisi melalui sistem broadcast transmission
ini menggunakan Very-High
Frequencies (VHF) dan Ultra High Frequencies (UHF). Kedua sinyal tersebut dipancarkan melalui transmitter
yang selanjutnya sinyal tersebut dapat diterima secara bebas oleh pesawat
televisi dan antena penerima standar. Jangkauan penerimaan siaran ini
bergantung pada kekuatan daya pancar transmitternya serta keberadaan stasiun relay.
Teknologi lain yang digunakan dalam
penayangan siaran televisi adalah melalui sistem closed-circuit television (CCTV). Sistem ini merupakan sistem pemancaran yang bersifat
privat dan terbatas pada lokasi tertentu yang masuk dalam jaringan siaran.
Sinyal televisi yang dipancarkan tidak dapat diterima oleh pesawat televisi
yang berada di luar sistem jaringan. Penggunaan sistem CCTV ini biasanya
digunakan oleh sekolah-sekolah atau kampus-kampus dan umumnya jangkauannya
tidak luas.
Lain halnya dengan TV-kabel, sistem
penayangan dan penerimaan siaran televisi melalui TV-kabel ini menggunakan
sambungan kabel khusus. Mereka yang menginginkan menerima siaran khusus dan
tidak dapat diterima oleh siaran televisi terbuka dapat berlangganan TV-kabel
ini.
Salah satu sistem penyiaran TV
adalah melalui penggunaan satellite
transmission dikenal dengan sebutan Direct Broadcast Satellite (DBS). DBS dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan
Satelit Siaran Langsung (SSL) merupakan sistem penerimaan siaran televisi
langsung dari satelit kepada pemilik pesawat televisiyang telah dilengkapi
dengan antena disc khusus. Dengan daya pancar 100 sampai 400 watt, SSL ini
dapat diterima langsung oleh pesawat televisi penerima siaran dengan
menggunakan sejumlah perangkat keras yang terdeiri dari antena disk yang
berdiameter 0,6 hingga 1 meter, decoder, dan remote control. Dengan semakin
majunya teknologi, antena disk penerima berdiametr tidak lebih dari 18 inci.
Secara singkat, mekanisme ketiga unsur utama sistem SSL dapat dijelaskan
sebagai berikut : stasiun pemancar bumi menerima sinyal dari stasiun penyiaran
yang kemudian melalui saluran tertentu dengan frekuensi up link diteruskan ke satelit dan selanjutnya dipancarkan kembali
ke bumi melalui saluran dengan frekuensi down link
yang sinyalnya kemudian dapat diterima langsung oleh pesawat televisi
penerima.
Karakteristik
Media Televisi
Pemanfaatan media televisi sebagai
alat penyampai materi pendidikan telah cukup dikenal, namun sejauh mana media
televisi ini dapat berperan dalam pendidikan jarak jauh merupakan fokus yang
menarik untuk ditelaah. Secara umum, medium televisi ini dapat dilihat sebagai
media yang sarat dengan informasi audio dan visual yang secara simultan
disajikan. Dari sisi pembelajaran, medium televisi pendidikan dikenal sebagai
medium yang memilik kekuatan audio visual yang mampu memberika pemahaman
mengenal konsep-konsep abstrak.
Keunggulan:
-
Menjangkau sasaran disik dalam
jumlah yang besar sekaligus secara bersamaan
-
Menyajikan berbagai informasi dalam
bentuk audio, visual dan gerak sekaligus. Variasi visual yang mampu disajikan
melalui media televisi ini memberikan peluang untuk menyajikan program yang
menarik dan imajinatif, yang tentunya akan menstimulasikan dan memotivasi
peserta didik dalam segala usia dan tingkat pendidikan.
-
Mampu menyajikan pengalaman dan
mendokumentasikan kejadian nyata.
-
Menjembatani peserta didik dengan
institusi SPJJ-nya. Kehadiran program televisi yang menampilkan
pengajar-pengajarnya melalui layar kaca akan mengurangi rasa kesendirianyang
umumnya dirasakan oleh peserta didik dalam SPJJ.
Keterbatasan:
-
Biaya pengadaan peralatan dan
pembuatan program televisi relatif mahal.
-
Pembuatan program relatif tidak
mudah dan lama.
-
Media televisi bersifat konstan,
artinya tidak dapat dihentikan atau diputar ulang apabila peserta didik tidak
memahami materi yang ditayangkan.
-
Waktu penayangan terbatas sehingga
apabila peserta didik tidak mengikuti siaran pada saat ditayangkan, maka mereka
kehilangan kesempatan untuk mengikuti program. Untuk itu, diperlukan informasi
jadwal jauh sebelum waktu penayangan sehingga peserta didik siap mengikuti
siaran.
-
Keterbatasan lain dari media
televisi adalah masalah interaktivitas yag sangat dibutuhkan dalam kegiatan
tutorial pada SPJJ. Tingkat interaktivitas media televisi sangat rendah karena
media ini merupakan media komunikasi satu arah. Dalam tingkat tertentu,
interaksi dapat dilakukan dengan menggunakan telpon, namun penyelenggaraan
siaran langsung dalam SPJJ mengalami banyak kendala.
Bentuk
Penyajian Program Televisi
Televisi merupakan media yang
memiliki kemampuan menyampaikan informasi dalam bentuk suara, gambar, dan gerak
sekaligus, serta dapatdisajikan dalam berbagai bentukpenyajian. Pada dasarnya,
bentuk penyajian program televisi sama dengan bentuk penyajian dalam program
radio yang telah dijelaskan sebelumnya. Bentuk penyajian tersebut adalah:
·
Ceramah, dikenal dengan istilah
talking head.
·
Dialog
·
Wawancara
·
Drama
·
Feature
·
Majalah
Penjelasan rinci mengenai bentuk
penyairan ini dapat dilihat pada penjelasan tentang radio, yang membedakan
bentuk penyajian tersebut bila diterapkan dalam media televisi adalah
penambahan unsur visual dan gerak. Dengan adanya tembahan unsu visual dan
gerak, menjadikan media televisi menarik sekaligus lebih sulit pembuatannya.
Para pembicara, penyiar ataupun pemain dan pelaku lainnya tidak hanya dinilai
dari suaranya, tetapi juga penampilan mereka.
Pemanfaatan
Media Televisi dalam SPJJ
Pemanfaatan media televisi dengan
frekuensi siaran yang cukup tinggi dari berbagai institusi penyelengara SPJJ
memperlihatkan bahwa media televisi meupakan media yang memiliki kemampuan yang
baik sebagai penghantar matei pembelajaran sekaligus sebagai media promosi bagi
institusi yang bersangkutan.
Kenyataan lain yang dihadapi oleh
sebagian institusi penyelenggaran SPJJ dalam menayangkan program televisi
adalah sulitnya memperoleh jam tayang serta jumlah jam tayang yang memadai. Hal
seperti ini cukup logis mengingat institusi penyelenggara SPJJ tidak
memiliki stasiun pemancar sendiri. Pada umumnya institusi penyelenggara SPJJ
mengandalkan stasiun pemancar milik swasta atau pemerintah yang telah
beroperasi di wilayah masing-masing. Kondisi seperti ini mengharuskan setiap
institusi penyelenggara SPJJ untuk selalu menjaga adanya akses terhadap
fasilitas produksi serta stasiun pemancar yang berkesinambungan.
c. Media
Pribadi/Personal
Keberadaan media pribadi atau media
personal dalam SPJJ adalah kebalikan dari media massa. Media massa adalah media
yang bersifat terbuka, artinya baik peserta didik yang terdaftar maupun tidak
terdaftar dapat menggunakn dan mempelajari materi-materi ajar yang disampaikan
melalui media tersebut. Sebaliknya, media pribadi atau personal adalah media
yang digunakan secara personal atau perorangan, dan biasanya digunakan oleh
mereka yang telah terdaftar pada suatu institusi SPJJ. Media-media yang masuk
dalam katagori ini antaara lain: personal-computer (PC), audio-cassette player,
VCR; yang kesemuanya memberikan fleksibilitas bagi peserta didik dalam
penggunaannya. Peserta didik bebas untuk menggunakannya kapan saja, dimana saja
, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Tentu saja dengan syarat
masing-masing peserta didik memiliki akses terhadap penggunaan media
tersebut. Kita akan melihat satu persatu jenis media yang termasuk dalam
kategori media personal ini lebih mendalam.
1) Audio Kaset
Karakteristik
Media Audio Kaset
Walaupun dikenal sebagai media
sederhana, keberadaan media audio kaset sebagi media personal dinilai cukup
efektif dan banyak disukai. Fleksibilitas media audio kaset dalam penggunaanya
merupakan daya tarik tersendiri. Media ini dapat diputar ualng, dipercepat,
dihidupkan atau dimatikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sejumlah
karakteristik lain dari media kaset yang menunjukan keunggulan dan keterbatasan
media ini akan dipaparkan satu persatu.
Keunggulan:
-
Di antara media-media yang digunakan
dalam pendidikan jarak jauh, media audio kaset tergolong sebagi media yang
murah.
-
Pengembangan program relatif mudah.
-
Dapat digunakan kapan saja tanpa
terikat pada jadwal terentu seperti halnya radio.
-
Peserta didik dapat menggunakannya
sesuai dengan kecepatan dan kemampuan belajar mereka masing-masing.
Durasi/lamanya program lebih flekibel karena tidak tidak terikat pada acuan
durasi tertentu, tidak seperti program radio yang terikat pada durasi penyiaran
tertentu. Durasi program audio kaset dapat pendek atau panjang sesuai dengan
materi yang disampaikan.
-
Penyajian media audio kaset ini
dapat dilakukan dalam beberapa cara, yaitu: hanya mendengar; mendengar
dan melihat; mendengar, melihat, dan melakukan.
-
Menyediakan berbagai sumber belajar
yang hanya dapat dimengerti melalui suara, kemudian menganalisis apa yang
mereka dengar.
-
Membantu peserta didik melatih suatu
ketrampilan. Penjelasan dalam bentuk suara yang terekam dalam kaset audio akan
lebih mudah memandu peserta didik dalam melakukan suatu kegiatan yang
memerlukan ketrampilan tertentu.
-
Membuat penyajian bahan ajar lebih
manusioawi dan bersifat personal, sehingga dapat memotivasi dan menguatkan peserta
didik. Kehadiran suara manusia apakah itu tutor atau pengajar yang seolah-olah
berbicara langsung kepada peserta didik memberikan perasaan lebih dekat dan
tidak sendiri. Peran ini sangat penting untuk dihadirkan dalam proses
pengajaran dan pembelajaran dalam SPJJ mengingat kehadiran secara fisik dari
ada pengajar sangat minimal atau bahkan tidak ada.
-
Menyajikan materi ajar yang tidak
mudah dituangkan dalam bentuk bahan cetak. Dalam kegiatan pengajaran dan
pembelajaran terdapat kemungkinan ditemukan materi-materi yang sulit untuk
dituangkan melalui media cetak. Keberadaan media audio kaset dapat menjembatani
situasi yang demikian.
-
Mempengaruhi perasaan dan sikap
peserta didik.
-
Mampu menampilkan para ahli yang
tidak mempunyai waktu menuangkan pengetahuan/keahlian mereka ke dalam bentuk
cetak.
-
Memberi kesempatan peserta didik
untuk mendengar suara dari para ahli, pengajar atau siapa pun yang memperkuat
materi ajar yang mereka pelajari.
-
Memberi kesempatan pada peserta
didik yang tidak dapat membaca dan karena alasan lain yang membuat mereka
tidak dapat membaca.
Keterbatasan:
-
Memerlukan alat putar/player.
Mengingat salah satu alasan yang mendasari penggunaan SPJJ adalah pemerataan
pendidikan pada daerah-daerah pelosok, maka ada kemungkinan peserta didik tidak
memilik alat putar/audio-cassette player.
-
Memerlukan listrik.
Dengan sejumlah keunggulan yang
dimiliki media audio kaset tidak diragukan bahwa media ini merupakan media yang
“menjanjikan” dalam SPJJ. Murah, mudah, fleksible merupakan kunci keberhasilan
suatu media dalam SPJJ,
Bentuk
Penyajian Program Audio Kaset
Penggunaan audio kaset dalam SPJJ
ada dua macam. Pertama adalah merekam program-program yang telah disiarkan, car
ini dinilai cukup baik untuk mengatasi penggunaan media radio yang kerap kali
tidak dapat didengarkan oleh peserta didik. Cara Kedua adalah merancang khusus
program-program untuk audio-kaset. Perbedaan dasar media audio-kaset dengan
media radio adalah dalam hal penggunaan serta format penyajian. Dari sisi
penggunaannya, kendali terletak pada peserta didik. Mereka leluasa
untuk menghidupkan, mematikan, mengulang, atau mempercepat program yang
mereka dengarkan sesuai dengan keinginan mereka. Hal seperti ini tidak terjadi
pada siaran radio, yang peserta didiknya tidak memiliki kendali. Keunggulan
lain seperti yang telah disebutkan sebelumnya adalah kemampuan
media audio kaset ini untuk tampil dalam berbagai cara atau forma penyajian.
Format penyajian audio kaset secara garis besar dapat dibedakan dalam tiga
bentuk penyajian yaitu:
· Hanya mendengar
· Mendengar dan melihat
· Mendengar, melihat, dan melakukan
Hanya
Mendengar
Format penyajian ini dapat
menyajikan segala jenis suara yang dapat didengar (aural) dan suara
manusia. Suara yang dapat didengar (aural) adalah segala jenis suara yang dapat
direkam dan disampaikan melalui kaset audio. Suara yang dapat didengar (aural)
dibedakan dalam beberapa jenis sumber, yaitu:
-
Peragaan melafalkan kata-kata
teknikal yang baru dipelajari
-
Dialog Bahasa Asing
-
Diskusi atau interviu dengan
praktisi
-
Dramatisasi
Suara-suara yang dapat direkam dalam
audio kaset ini berkaitan erat dengan materi yang dibahas pada materi dari mata
pelajaran atau mata kuliah. Hal ini ditujukan untuk membantu peserta didik
dalam mempelajari bahan ajarnya.
Jenis suara yang dapat direkam dalam
audio kasetadalah suara manusia dalam hal ini pengajar atau tutor dari mata
pelajaran atauy mata kuliah yang bersangkutan. Penyajian pengajar atau tutor
dapat berbentuk ceramah, pembicaraan antara dua, tiga orang atau bimbingan
belajar. Bentuk penyajian ceramah biasanya membosankan, sebab pengajar
cenderung berbicara secara formal sehingga tidak menarik. Namun, tentunya
bentuk penyajian ini akan menjadi menarik apabila dibawakan oleh pengajar yang
mampu berbicara di depan mikropon dengan cara yang memikat, tempo suara yang
cukup, intonasi yang menguatkan, meyakinkan, mapu membuat peserta didik
merasakan bahwa sang pengajar “berbicara langsung” dengan mereka, mampu
memberikan reinforcement yang kuat. Namun, apabila sulit mendaptkan pengajar dengan
kualifikasi tersebut, maka bentuk pemberian bahan ajar melalui audio kaset ini
dapat dilakukan dengan cara menampilkan dua orang pengajar yang akan berbicara
secara bergantian dalam bentuk dialog atau wawancara. Bentuk penyajian ini akan
membantu menghidupkan suasana sehingga pembicaraan mengalir dengan luwes
dan menarik peserta didik yang mendengarkan. Bentuk penyajian lain seperti
drama, feature atau majalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat
pula digunakan pada program audio kaset apabila sesuai dengan karakteristik
materi yang akan disampaikan.
Penyajian materi oleh pengajar atau
tutor dalam audio kaset tidak terbatas hanya pada materi bahan ajar, tetapi
juga dapat menyajikan materi lain yang bermanfaat bagi peserta didik, misalnya
bantuan belajar, bimbingan belajar. Bentuk sajian seperti ini juga sangat
membantu peserta didik dalam SPJJ untuk menghilangkan rasa kesendirian.
Mendengar
dan Melihat
Bentuk penyajian audio kaseeet lain
yang dapat dikembangkan adalah bentuk penyajian yang peserta didiknya tidak
hanya mendengar suara tetapi juga melihat. Bentuk sajian ini dikenal dengan
istilah audio-vission. Media audio kaset memang merupakan media yang sangat
bergantung dengan suara, tetapi bentuk penyajian audio vission mampu
menstimulasi peserta didik untuk tidak hanya mendengar tetapi juga melihat
secara bersamaan. Apa yang didengar dan dilihat berkaitan satu dengan yang lain
dan saling menguatkan atau lebih dikenal dengan sebutan terintegrasi. Visual
atau sesuatu yang dilihat dalam paket ini dapat berbentuk bahan cetakan,
misalnya gambar, grafis, peta, foto, chart, diagram, tabel, yang tentunya
sesuai dan berkaitan dengan apa yang disuarakan. Selain itu, dapat pula
berbentuk bahan visual non-cetak, seperti slide atau bahkan benda nyata yang
perlu dipelajari, misalnya potongan batu-batuan. Penyajian seperti ini akan
sangat membantu dan memperkuat informasi yang diberikan, karena selain mendapat
informasi melalui pendengaran, peserta didik dapat pula menggunakan penglihatan.
Bentuk penyajian audio-vission ini tentu memerlukan persiapan dan rancangan
yang lebih matang dibandingkan dengan bentuk audio kaset yang hanya mendengar.
Mendengar,
Melihat, dan Melakukan
Bentuk penyajian audio
kaset yang mengkombinasikan kemampuan mendengar, melihat, dan melakukan
sesuatu disebut dengan istilah active audiovission.
Bentuk penyajian ini merupakan modifikasi dari audiovission yang menambahkan
faktor aktif dari peserta didik untuk melakukan sesuatu. Media audio kaset yang
dikenal sebagai media satu arah yang tidak mempunyai kemampuan interaksi
ternyata dapat memberikan proses interaksi walaupun dalam tingkat tertentu
dalam bentuk penyajian active audiovission. Melalui bentuk penyajian ini
peserta didik dapatdiminta untuk melakukan suatu kegiatan yang berkaitan dengan
materi yang sedang dipelajari, misalnya: menghitung sesuaatu, menyelesaikan
suatu pekerjaan, mengoperasikan peralatan tertentu, bahkan melakukan
eksperimen. Pengembangan program active audiovission ini memerlukan persiapan yang
jauh lebih komplek dari bentuk penyajian audio kaset lainnya, tetapi memilik
kemampuan pengajaran yang sangat baik bagi peserta didik dlam SPJJ.
Pemanfaatan
Media Audio Kaset dalam SPJJ
Pada kondisi dewasa ini, secara
teori pemanfaatan audio kaset dalam SPJJ tidak menjadi masalah mengingat
peralatan putar atau audio cassette player bukan merupakan barang langka.
Walaupun demikian, penggunaan media audio kaset dalam institusi penyelenggara
SPJJ sangat beragam. Pada institusi tertentu pemanfaatan media audio kaset
cukup tinggi tetapi pada institusi lain belum tentu demikian. Pada umumnya
setiap institusi penyelenggara SPJJ memanfaatkannya, sekalipun dalam presentasi
yang kecil.
2) Video / VCD
Istilah video bukan merupakan hal
yang baru, baik dalam dunia hiburan maupun pendidikan. Video yang dalam bahasa
latinnya berarti I
See, memiuliki pengertian sebagai
penyajian gambar-gambar yang disampaikan melauli televisi atau bentuk media
sejenis. Pada awal perkembangannya gambar-gambar yang direkam dalam bentuk
video ini dikemas dalam kaset. Namun, sejalan dengan perkembangan teknologi
dalam bidang media yang sangat cepat, telah memunculkan versi perekan video
lain yang digunakan untuk mengemas program video, antara lain videodiscs. Kedua versi video tersebut baik dalam bentuk kaset maupun disc dimanfaatkan dlam SPJJ sebagai media untuk menyampaikan
bahan ajar yang dapat dikategorikan sebagai media personal yang artinya
dimanfaatkan secara individual oleh peserta didik. Walaupun tidak menutup
kemungkinan pemanfaatan video ini dilakukan dalam bentuk kelompok belajar.
Karakteristik Media Kaset
Video/Video Disc
Kehadiran video dan alat pemutar
kaset video atau video disc memberikan warna dan dimensi baru dalam
pemanfaatan program televisi pendidikan. Hal ini tentunya mempunyai dampak
secara langsung pada pemanfaatan teknologi dalam SPJJ. Munculnya
teknologi ini membantu institusipenyelenggara SPJJ untuk tidak bergantung
secara penuh kepada media televisi. Kemampuan video kaset/disc dan televisi
dalam menyajikan bahan ajar, pada umumnya sama. Perbedaan yang jelas di antara
keduanya adalah penggunaanvido kaset/disc bersifat personal dan tidak perlu
terjadwal, sementara media TV merupakan media massa dan pengunaannya terjadwal.
Kaset Video vs
Video Disc
Pada dasarnya, video discs atau
dikenal dengan sebutan VCD ini memiliki fungsi yang sama dengan media audio
klaset, yaitu sebagai penyampaian materi ajar. Perbedaan mendasar di antara
keduanya terletak pada format fisiknya:
·
Kaset video terbuat dari pita kaset,
sementara video
disc terbuat dari bahan perak yang
berkilat.
·
Bila ditinjau dari ukuran dan
kualitasnya, maka video kaset memiliki ragam yang cukup banyak, yaitu : U-matic
memiliki kelebaran pita ¾ inci dengan kualitas broadcast; VHS memiliki
kelebaran pita ½ inci dengan kualitas non-broadcast, Hi-8 memiliki kelebaran
pita ¼ inci dengan kualitas rendah. Sementar ukuran dari video disc berdiameter 12 inci.
·
Perbandingan kualitas antara kaset
video dengan video disc cukup signifikan; videodisc memiliki resolusi sejumlah
350 garis, sementara kaset video hanya 240 garis. Dengan resolusi sebesar 350
garis, maka videodisc dikategorikan memiliki kualitas High Definition television (HDTV), yang artinya memiliki gambar-gambar yang disajikan
kualitasnya lebih baik dan setaraf dengan kualitas gambar pada film 16 mm.
Keunggulan lain dari videodisc dibandingkan dengan kaset video terlihat dari kualiltas
audionya yang memiliki perbedaan cukup signifikan.
·
Perbedaan lain antara videodisc dan video kaset dalam pemanfaatannya di dunia pendidikan
adalah adanya kemampuan videodisc untuk menampilkan gambar secara frame by frame dan memiliki dua track
suara
Untuk memperoleh pemahaman yang baik
tentang pemanfaatan video kaset/disc dalam SPJJ, perlu diketahui tidak saja
keunggulannya, tetapi juga keterbatasannya yang tentunya menggambarkan
karakteristik media video kaset/disc secara menyeluruh.
Keunggulan:
-
Mampu menyampaikan materi
belajar dalam bentuk audio, visual, dan gerak. Kemampuan ini pada dasarnya sama
persis dengan media televisi.
-
Pemanfaatan video kaset/disc tidak
bergantung pada jadwal tertentu.
-
Materi yang disajikan dalam program
video dapat diintegrasikan dengan bahan ajar dalam bentuk lain, media cetak
misalnya.
-
Kendali terdapat pada peserta didik.
Peserta didik dapat memulai, mengulang, dan menyelesaikan programnya sesuai
dengan kebutuhan mereka.
-
Durasi program video kaset/disc
fleksibel. Panjang pendeknya program tidak ditentukan oleh durasi tertentu
seperti halnya program yang ditayangkan melalui media televisi, melainkan
dengan materi dan tujuan program.
Keterbatasan
:
-
Diperlukan alat pemutar kaset
video/video disc, video cassette/disc player yang harganya tidak murah.
-
Biaya pengganti kaset video relatif
lebih mahal dibandingkan dengan kaset audio dan video disc lebih mahal dari
kaset video. Untuk mata ajaran/mata kuliah yang hanya diikuti peserta didik
dengan jumlah terbatas, kompensasi pengganti biaya kaset video ataupun
video disc menjadi lebih mahal.
Keunggulan yang melekat pada media
kaset video/video disc ini memberikan banyak keleluasaan dalam merancang proses
pengajaran dan pembelajaran dalam SPJJ. Sejauh mana media kaset video/video
disc ini dapat berperan dalam pembelajaran jarak jauh, merupakan hal
menarik untuk dibahas.
Pemanfaatan
Media Kaset Video dalam SPJJ
Penggunaan kaset/disc video dalam
SPJJ sangat membantu peserta didik yang tidak sempat menyaksikan tayangan
program melalui media televisi. Selain itu, memberi kesempatan kepada peserta
didik yang ingin mempelajari materi-materi dalam program secara lebih mendalam
dengan kecepatan belajar mereka masing-masing. Sementara cara penggunaan kaset
video yang kedua adalah merancang secara khusus bahan ajar yang akan
disampaikan dalam video kaset/videodisc. Cara kedua ini umumnya dapat lebih
mengenai sasaran atau tujuan pembelajaran, karena perancang program tidak perlu
terikat pada durasi program yang biasanya disyaratkan bila ditayangkan melalui
media televisi serta dapat memberikan instruksi atau arahan dalam mempelajari
bahan ajar. Denagan memprhatikan karakteristik media kaset video serta karakteristik
SPJJ, media ini mampu berperan banyak dalam meningkatkan kualitas proses
belajar mengajar dengan menggunakan SPJJ. Secara spesifik, peranan media
kaset/disc video dalam proses pengajaran dan pembelajaran si SPJJ dapat
diidentifikasi sebagai berikut:
-
Materi yang disampaikan melalui
media cetak yang memiliki keterbatasan dalam menyajikan visualisasi dan gerak
akan terbantu dengan kehadiran kaset video/videodisc. Materi yang tidak dapat
dituangkan dalam media cetak karena memerlukan banyak visualisasi atau bahkan
gerkan dapat disampaikan melalui kaset video/videodisc.
-
Karakteristik lain dari media kaset
video yang sangat menunjang proses pengajaran dan pembelajaran dalam SPJJ
adalah kendali menggunakan media ini sepenuhnya berada di tangan peserta didik.
Peserta didik dapat menghidupkan, mematikan, mengulang, istirahat sejenak
sesuai dengan keinginan/kemampuan mereka atau sesuai dengan rancangan program.
Peserta didik dapat memilih sekehendak hati mereka bagian mana yang akan mereka
pelajari lebih seksama atau bagian mana yang dapat mereka acuhkan. Selain itu,
peserta didik dapat mengikuti arahan yang diberikan oleh program video untuk
melakukan suatu kegiatan. Kehadiran media kaset video sebagai bagian yang
terintegrasi dengan media cetak, dapat dimunculkan untuk memberikan penjelasan
yang bersifat gerak dan visual. Kemampuan media kaset video untuk digunakan
secara terkait atau terintegrasi dengan bahan ajar lain sangat membantu
pemahaman peserta didik dalam mempelajari suatu materi. Kemampuan kaset video
dalam menghadirkan interaksi jauh lebih baik dari pada media televisi, walaupun
dalam tingkat rendah. Kemampuan berinteraksi ini sangat berperan dalam
peningkatan kualitas proses belajar peserta didik.
-
Proses pengajaran dan pembelajaran
lain yang dapat didukung oleh kehadiran media kaset video dalam SPJJ adalah
adanya kesempatan untuk menyaksikan program video secara berkelompok.
Program kaset video dapat didesain dalam beberapa cuplikan/fragmen pendek untuk
menjadi bahan diskusi kelompok. Diskusi kelompok yang membahas materi
yang disampaikan dalam program video akan bermanfaat bagi peserta didik untuk
dapat merefleksikan pengalaman ataupun opini mereka terhadap materi terkait.
3) Komputer
Jenis media lain yang dikategorikan
sebagai media personal adalah media berbasis komputer. Komputer hingga saat ini
merupakan satu-satunya media yang memiliki teknologi yang berkemampuan
interaktif. Dewasa ini komputer tidak lagi merupakan konsumsi bagi mereka yang
bergerak dalam dunia bisnis dan usaha, tetapi telah dimanfaatkan secara luas
oleh dunia pendidikan.
Karakteristik
Kebutuhan akan kehadiran media
komputer dalam dunia pendidikan ini sangat terasa, terutama oleh institusi yang
menerapkan SPJJ. Hal ini disebabkan oleh karakteristik media komputer, antara
lain:
·
Memungkinkan terjadinya interaksi
antara peserta didik dan materi pembelajaran,
·
Memungkinkan terjadi proses belajar
mandiri sesuai dengan kemampuan belajar peserta didik,
·
Mampu menampilkan unsur audio
visual,
·
Dapat memberikan umpan balik,
·
Menciptakan proses belajar
berkesinambungan.
Karakteristik media berbasis
komputer ini sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagi media pembelajaran
dalam SPJJ. Potensi yang sulit diperoleh melalui media lain dapat terakomodasi
.
Bentuk
penyajian
Keunggulan media berbasis komputer
dari segi kemampuan menghadirkan interaktivitas telah dieksploitasi dalam
berbagai bentuk penyajian. Enam bentuk interaksi yang dapat diaplikasikan dalam
merancang materi pembelajaran, yaitu:
1.
praktek dan latihan (drill and practice)
2.
tutorial
3.
permainan (game)
4.
simulasi (simulation)
5.
penemuan (discovery)
6.
pemecahan masalah (problem solving)
Keenam bentuk penyajian materi
melalui media komputer masing-masing memiliki keunggulan dan keterbatasan.
Program yang berbentuk drill and practice umumnya digunakan untuk menyajikan
materi pembelajaran yang bersifat konsep, prionsip atau prosedur. Bentuk
penyajian ini ditujukan untuk melatih kecakapan dan ketrampilan. Interaksi yang
digunakan pada bentuk penyajian ini dilakukan dengan cara pemberian soal atau
kasus yang memerlukan respoons dari peserta didik sekaligus disertai umpan baliknya.
Bentuk lain dari penyajian media
berbantuan komputer ini adalah tutorial. Program ini menyajikan informasi atau
pengetahuan tertentu yang diikuti dengan latihan pemecahan soal dan kasus.
Bentuk interaksi yang terlihat menonjol dalam penyajian ini adalah penyajian
informasi dalambentuk bercabang (branchea), yang memberika kebebasan bagi
peserta didik untuk mempelajari materi ajar.
Penyajian dalam bentuk permainan (games) umumnya ditujukan untuk memotivasi peserta didik dalam
mempelajari materi atau informasi yang disampaikan.
Simulasi sebagai salah satu bentuk
penyajian media berbantuan komputer, merupakan sebuah upaya untuk melibatkan
peserta didik dalam persoalan yang mirip dengan situasi yang sebenarnya tanpa
resiko yang nyata. Melalui program simulasi, peserta diajak untuk membuat
keputusan yang tepat dari beberapa alternatif solusi yang ada. Setiap keputusan
yang diambil akan memberikan dampak tertentu.
Dalam program berbentuk penemuan (discovery), penyajian materi difokuskan pada pemecahan masalah dengan
cara trial
and error. Melalui bentuk penyajian ini,
peserta didik diarahkan untuk dapat menemukan solusi dari permasalahan yang
dihadirkan. Dengan strategi ini, peserta didik diharapkan dapat memahami proses
yang dilalui untuk memecahkan masalah dan mampu mengingatnya lebih lama.
Bentuk lain penyajian komputer
interaktif adalah problem
solving atau pemecahan masalah. Pada
prinsipnya bentuk penyajian ini menitikberatkan pafa melatih peserta didik
untuk memecahkan permasalahan, yang jawabnya telah disediakan dalam program.
Variasi interaksi yang dapat
dihadirkan melalui media komputer tersebut memperkaya cara penyamnpaian materi
pembelajaran dalam SPJJ.
Video
Interaktif (Interactive Video)
Salah satu bentuk pemanfaatan media
berbantuan komputer yang juga mampu menghadirkan proses belajar yang bersifat
interaktif dalam SPJJ adalah video interaktif. Video interaktif ini merupakan
bentuk penyajian materi pembelajaran yang dikemas dalam rekaman video tetapi
disajikan dalam kendali komputer. Media komputer memegang peranan penting
utntuk menghadirkan kemampuan inteligen dan interaktivitas, sementara video
menghadirkan materi pembelajaran dalam bentuk suara dan gambar. Perpaduan
antara dua karakteristik media tersebut menjadikan media ini memiliki kelebihan
yang tidak dimiliki oleh masing-masing media jika harus berdiri sendiri.
Keunggulan lain dari video
interaktif adalah melekatnya karakteristik individualisasi. Karakter ini
memungkinakan peserta didik/pengguna untuk memanfaatkan program sesuai dengan
kemampuan dan keinginannya. Selain itu, video interaktif mampu menghadirkan
bentuk simulasi.
Walaupun memiliki banyak kelebihan,
video interaktif memiliki keterbatasan yang menghambat pengembangan dan pemanfaatannya
dalam prod\ses pembelajaran, yaitu biaya. Biaya yang dibutuhkan untuk
pengembangan media ini relatif tinggi, sehingga tidak banyak institusi
pendidikan jarak jauh mampu menawarkan materi ajarnya dalam bentuk video
interaktif.
Pemanfaatan
Media berbantuan Komputer dalam SPJJ
Pemanfaatan media berbantuan
komputer pada institusi yang menerapkan SPJJ masih terasa terbatas. Pada
negara-negara maju kepemilikan perangkat komputer tidak merata. Misalnya di
UKOU-Inggris, pada tahun 1988 tercatat bahwa hanya 35% mahasiswa memiliki
perangkat komputer atau memiliki akses terhadap komputer, 38% menyewa, dan 27%
sengaja membeli perangkat komputer untuk keperluan pembelajaran. Hal ini
menunjukkan bahwa pemanfaatan media berbantuan komputer masih menghadapi kendala,
terutama dalam hal ketersedian perangkat.
Media Telekomunikasi
Kemajuan yang
sangat cepat dalam bidang telekomunikasi mempunyai dampak yang cukup berarti
dalam penyelenggaraan SPJJ. Komunikasi elektronik jarak jauh dapat dilakukan
dalam tiga cara, yaitu: dalam bentuk teks, audio, dan video. Berdasarkan cara
komunikasi ini, media telekomunikasi yang dapat dimanfaatkan dalam SPJJ ini
dibedakan dalam beberapa jenis, antara lain:
§ Audio Conferencing
§ Video conferencing
§ Internet
§ Computer conferencing
1) Audio
Teleconference/Telekonferensi Audio
Bentuk lain dari media telekomunikasi yang dapat diterapkan
dalam SPJJ adalah telekonferensi audio. Telekonferensi audio (audio teleconference) pada dasarnya merupakan perluasan atau perpanjangan dari
pemanfaatan telepon biasa. Kemajuan dua arah yang terjadi dalam sebuah
telekonferensi audio umumnya dilakukan secara langsung dengan menggunakan
saluran telepon maupun satelit. Telekonferensi ini terjadi untuk menjembatani
pertemuan antarindividu atau kelompok yang berada pada lokasi yang berbeda,
pada saat yang bersamaan. Dalam SPJJ, kegiatan ini terjadi.
Keunggulan:
Telekonferensi
audio memiliki beberapa keunggulan sebagai beirkut:
§ Pesawat telepon sudah memastarakat, sehingga telekonferensi
audio sangat potensial digunakan.
§ Relatif murah, efektif, dan mudah untuk digunakan.
§ Jangkauan luas, sehingga memungkinkan partisipasi mahasiswa
dari berbagai lokasi.
§ Tingkat interaktivitas dalam pemanfaatan telekonferensi
audio ini tinggi, sehingga memungkinkan peserta dan narasumber atau instruktur
dapat saling berbicara satu dengan yang lain.
Keterbatasan:
Sedangkan
keterbatasan telekonferensi audio adalah sebagai berikut:
§
Tidak mampu menyajikan materi yang
bersifat visual. Kendala ini dapat diatasi dengan mempersiapkan materi yang
bersifat visual di lokasi konferensi sebelum kegiatan dimulai.
§
Penerimaan suara kurang baik. Pada
komunikasi audio jarak jauh kendala kurang baiknya kualitas radio sering
ditemukan. Untuk mengatasi kendala ini, penyelenggara perlu memperhatikan
peralatan microphone-amplifier khusus disetiap lokasi.
§
Terbatasnya pengalaman menggunakan
media ini, membuat peserta enggan mengikuti kegiatan konferensi audio.
Peralatan yang diperlukan:
Dalam pendidikan jarak jauh, telekonferensi audio untuk
mempertemukan peserta didik baik dalam bentuk kelas maupun kelompok yang lebih
kecil dengan kelompok lain atau narasumber. peralatan yang diperlukan untuk
telekonferensi audio ini adalah sebagai berikut:
§
Untuk telekonferensi yang
memhubungkan satu narasumber dan satu kelompok, maka peralatan yang dibutuhkan
adalah pesawat
telepon biasa untuk narasumber, sedangkan
untuk kelompok dibutuhkan tambahan peralatan berupa speaker telepon.
§
Sementara untuk menghubungkan dua
atau lebih kelompok peserta konferensi maka dibutuhkan peralatan amplifier microphone khusus pada tiap lokasi. Peralatan ini diperlukan untuk
memastikan bahwa suara yang didengar cukup jelas.
§
Selain itu, dibutuhkan peralatan
yang disebut dengan brigde yang merupakan sistem elektronik yang menghubungkan
suara dari seluruh lokasi yang mengikuti konferensi tersebut, menyeleraskan
level suara, memfilter gangguan-gangguan, dan memperhatikan masalah tidak
tersambungnya hubungan telepon.
Pemanfaatan Telekonferensi Audio
Pemanfaatan
telekonferensi audio dalam SPJJ dilakukan dengan berbagai macam sistem. Pemanfaatan
telekonferensi audio dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain adalah
sebagai berikut:
§
User-inisiated conference
calls; konferensi terselenggara karena
peserta berinisiatif menelepon. Untuk melakukan pemanfaatan telekonferensi
dengan cara ini, pastikan bahwa semua peserta didik memiliki daftar nomor
telepon orang atau tutor yang dapat mereka hubungi. Kemudian dorong setiap
peserta didik untuk tidak sungkan-sungkan berkomunikasi melalui telepon sesuai
denagn kebutuhannya
§
Operator-initiated; peserta konferensi dihubungi oleh operator. Dengan cara ini
operator menghubungi peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok untuk
melakukan telekonferensi.
§
Dial-in or
meet-me teleconferencing; konferensi
audio yang diselenggarakan dengan sistem yang mempersilahkan para peserta untuk
mengontak atau
menelepon penyelenggara konferensi.
Dalam berbagai
kasus penyelenggaraan pendidikan jarak jauh, peserta didik lebih suka
memanfaatkan model pertama.
2)
Konferensi
Video (Video Conferencing)
Pada dasarnya
prinsip penggunaan video konferensi pada SPJJ tidak jauh berbeda dengan audio
konferensi. Kelebihan yang dimiliki oleh konferensi video ini adalah para
peserta dapat melihat satu dengan yang lain pada TV monitor. Artinya melalui
konferensi video, peserta didik tidak hanya bisa mendengar tapi juga melihat
(kombinasi antara suara dan gambar).
Keunggulan:
§
Memiliki nilai biaya efisien. Segala
bentuk program yang disiarkan secara broadcast
yang mampu mencapai sasaran pada lokasi yang berpencar, pada umumnya memiliki
nilai biaya efisien.
§
Memiliki kemampuan penyajian materi
atau informasi yang bersifat audiovisual.
§
Memiliki kemampuan komunikasi dua
arah, sehingga dapat membantu mengatasi keterbatasan jarak, ruang, dan
waktu.
Keterbatasan:
§
Biaya pengadaan fasilitas, peralatan
konferensi video, dan juga biaya penyelenggaraan komunikasi dua arah melalui
telepon yang cukup mahal.
§
Pemanfaatan konferensi video menuntut
persiapan yang lebih baik dan matang bagi tenaga pengajar/tutor, terutama dalam
menyiapkan materi yang bersifat visual.
§
Durasi penyelenggaraan konferensi
video terbatas. Berdasarkan pada sejumlah pendapat dari para pengguna,
penyelenggaraan konferensi video sebaiknya tidak mencapai satu jam. Penggunaan
konferensi video dengan durasi mencapai satu jam atau lebih menimbulkan
kelelahan dan juga kehilangan daya kosentrasi. Dengan demikian apabila
konferensi video harus dilakukan selama lebih dari satu jam, maka perlu
diberikan waktu istirahat untuk memulihkan daya konsentrasi para peserta.
Peralatan yang diperlukan:
Beberapa
perlatan yang diperlukan baik di lokasi pengirim maupun lokasi penerima antara
lain adalah sebagai beirkut:
§
kamera,
§
mikropon,
§
monitor
§
Video Cassette Rercorder (VCR)
§
peralatan transmisi (seperti serat
optik, kabel, microwave, satelit atau kombinasi dari kesemuanya; dan
§
peralatan komunikasi dua arah (talkback devices) berupa saluran telepon.
Pemanfaatan Konferensi Video Dalam SPJJ
Pemanfaatan
konferensi video memerlukan persiapan yang matang baik di lokasi pengirim mapun
penerima. Beberapa hal yang harus dilakukan adalah sebagai beirkut:
1.
Pastikan bahwa semua peralatan
seperti tersebut di atas telah lengkap dan diinstal dengan baik, baik di
lokasi pengirim maupun penerima.
2.
Pastikan bahwa konverensi video
telah terjadwal dengan baik (misal jadwal per bulan, triwulan atau semester berikut
mata ajar dan narasumbernya).
3.
Pastikan peristiwa/proses
konferensi video telah direkam dengan baik. Sehingga, bagi peserta didik yang
tidak sempat mengikuti konverensi video dapat mempelajarinya dengan cara
menonton rekaman melalui video cassette.
3)
Konferensi
via Komputer (Computer Conferencing)
Dengan kemajuan
teknologi, pemanfaatan komputer dalam proses pembelajaraan tidak hanya terbatas
pada penggunaan stand
alone, tetapi dapat pula dilakukan dalam
bentuk jaringan, yang dikenal dengan internet. Jaringan
komputer telah memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang lebuh luas,
interaktif, dan lebih fleksibel. Jaringan ini mampu menghubungkan beraturs ribu
jaringan komputer. Dengan kemampuan ini, internet dapat menjadi media komunikasi
dalam proses pembelajaran jarak jauh, sekaligus dapat berperan sebagai sumber
pembelajaran.
Keunggulan
Konferensi
melalui internet memiliki keunggulan antara lain sebagai berikut:
§ Dapat menjangkau peserta yang tidak terbatas jumlahnya pada
saat bersamaan.
§ Tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan bahkan teritorial
negara.
§ Mampu menyajikan teks, gambar, animasi, suara dan video
dengan kecepatan yang relatif tinggi (min. 156 KBPS)
§ Mampu melakukan link ke berbagai lokasi (site) lain di
dunia.
§ Interaktifitas sangat tinggi
Keterbatasan:
Konferensi
melalui internet memiliki keterbatasan antara lain sebagai berikut:
§ Membutuhkan keterampilan menggunakan komputer (computer
literacy);
§ Pulsa internet relatif masih mahal;
Peralatan yang diperlukan:
§ Unit komputer yang terhubung ke internet
§ Line telepon
§ Modem
§ Peralatan Local Area Network (seperti HUB, LAN Port, dll)
§ Computer Speaker
§ Camera
Pemanfaatan Internet dalam PJJ:
Pemanfaatan
internet dalam PJJ dapat dilakukan dalam beberapa cara, antara lain adalah
sebagai beirkut:
§
Chatting
(dialog elektronik); tutor dan satu atau lebih peserta
didik dapat secara bersamaan berdialog menggunakan teks atau suara melalui
internet. melalaui chatting, proses telekomunikasi berlangsung secara bersamaan
(sinchronous) dan umpan balik tidak tertunda. Beberapa hal yang
harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1.
Baik tutor atau peserta didik
memiliki alamat e-mail masing-masing.
2.
Tutor atau peserta didik telah
mendapat pelatihan cara berdialog secara elektronik (chatting)
3.
Tutor dan peserta didik memanfaatkan
salah satu operator internet yang menyediakan fasilitas chatting (misal
http:www.yahoo.com).
4.
Tutor dan peserta didik menentukan
jadwal kapan chatting melalui operator internet tersebut dapat dilakukan.
5.
Selanjutnya Tutor dan peserta didik
dapat berdiskusi berkaitan dengan topik yang telah disepakati mereka secara
bersama.
§
Electronik Mail
(e-Mail); tutor dan peserta didik dapat saling
berikirim surat secara elektronik melalui e-mail. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam berkoresponden secara elektronik adalah sebagai berikut:
1.
Baik tutor atau peserta didik
memiliki alamat e-mail masing-masing.
2.
Tutor atau peserta didik telah
mendapat pelatihan cara berkoresponden secara elektronik (e-mail)
3.
Peserta didik bertanya kepada tutor
dengan cara mengirim e-mail ke alamat tutornya untuk mendapatkan umpan balik.
4.
Atau tutor memberikan
tugas/pertanyaan dengan cara mengilim e-mail ke alamat peserta didiknya untuk
dijawab/dikerjakan.
5.
Atau peserta didik dan peserta didik
lain saling bertukar informasi, ide dan lain-lain dengan cara saling berkirim
e-mail.
§
Mailing List
(Millist); Mailing list adalah
perpanjangan penerapan e-mail. melalui mailinglist satu surat elektronik dapat
ditujukan kepada beberapa lamat e-mail yang telah terdaftar di mailinglist
tersebut sekaligus. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai
berikut:
1.
Baik tutor atau peserta didik
memiliki alamat e-mail masing-masing.
2.
Tutor atau peserta didik telah
mendapat pelatihan cara berkoresponden kelompok (mailing list).
3.
Tutor membuat suatu alamat millist
dan memasukan semua alamat e-mail peserta didiknya kedalam millist tersebut.
4.
Tutor dapat mengirim informasi atau
melontarkan masalah untuk didiskusikan melalui millist tersebut sehingga secara
bersamaan semua peserta didik yang terdaftar dalam millist tersebut dapat
menerima informasi yang sama.
5.
Begitu pula sebaliknya, peserta
didik dapat mengirim informasi atau melontarkan masalah untuk didiskusikan
melalui millist tersebut sehingga secara bersamaan semua anggota millist dapat
memperoleh informasi yang sama.
http://aristorahadi.wordpress.com/2008/04/28/media-pembelajaran-dalam-pendidikan-jarak-jauh/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar