Minggu, 29 Juli 2012

CARA SETUP BIOS


SETUP BIOS



Nyalakan PC dan dengan beberapa langkah lagi PC pun siap Anda nikmati.
Sabar. PC memang telah selesai Anda rakit, tapi perlu beberapa pengesetan lagi sebelum bisa Anda pakai. Dan kali ini singkirkan deh obeng dan peralatan lainnya.
Yang Anda perlukan cuma tak-tik pada kibor atau klak-klik dengan mouse saja, karena Anda tinggal mengeset BIOS dan menginstal sistem operasi saja. Pada praktik ini kami menggunakan sistem operasi Windows XP Profesional (Original).
O ya, jika Anda menemukan masalah, jangan buru-buru panik. Anda bisa melihat berbagai kemungkinan penyebab dan solusinya pada bagian troubleshooting di akhir laporan ini.

MENGATUR BIOS
LANGKAH 1
Hubungkan monitor, kibor, mouse dan peranti lainnya pada PC. Jangan lupa tancapkan kabel power ke port power di belakang PC. Sesudah itu, tekan tombol power pada PC dan monitor untuk menghidupkan komputer rakitan Anda. PC segera melakukan proses booting.



LANGKAH 2
Segeralah menekan tombol [Delete] pada kibor untuk masuk ke menu BIOS/CMOS Setup.












LANGKAH 3
Anda akan masuk BIOS. Pada workshop ini, motherboard yang kami gunakan menggunakan AwardBIOS. Jadi langkah langkah berikut ini disusun berdasarkan AwardBIOS. Pengaturan untuk jenis BIOS lainnya kurang lebih sama saja kok. Nah, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mengeset waktu yang akan digunakan oleh sistem komputer. Aturlah melalui menu [Main] [System Time]. Untuk mengubahnya, gunakan tombol [+], [-] dan tombol [Tab] pada kibor Anda.
LANGKAH 4
Selanjutnya, dengan cara yang sama, ubahlah tanggal pada sistem komputer Anda melalui menu
[System Date].
















LANGKAH 5
Setelah mengeset waktu dan tanggal dari sistem, jika mau, Anda juga dapat memasang password BIOS agar orang lain tidak dapat mengubah setelan BIOS yang Anda buat. Caranya, pilih menu [Supervisor Password], lalu tekan tombol [+] pada kibor. Selanjutnya, masukkan password Anda pada boks Enter Password, lalu klik [Enter]. Masukkan kembali password Anda pada boks Confirm Password, kemudian kembali klik [Enter]. Nah, sekarang status opsi Supervisor Pass word pasti menjadi Enabled.
LANGKAH 7
Sekarang bukalah menu [Advanced] dengan menekan tombol [‡] (arah panah ke kanan) pada kibor Anda, lalu pilih [I/O Device Configuration] kemudian [Enter].

Kamis, 05 Juli 2012

KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Kurikulum Pendidikan di Indonesia Terlalu Kompleks



Kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia dinilai terlalu kompleks dibandingkan kurikulum yang diterapkan di beberapa negara maju sehingga beban siswa dalam belajar semakin berat.
Hal itu pula yang menyebabkan banyak siswa di Indonesia merasa dipaksa untuk menguasai materi/ketrampilan yang sebenarnya tidak sesuai dengan bakat mereka.
Hal tersebut terungkap dalam Studium General di Universitas Pakuan yang menghadirkan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, HE David L Taylor sebagai pembicara, akhir pekan lalu.
Menurut Taylor, kurikulum pendidikan di Selandia Baru relatif ringan dan mudah diterapkan untuk siswa. "Kebanyakan menekankan pada skill atau ketrampilan dan kemampuan dalam menghadapi berbagai masalah yang ada dalam kehidupannya sekarang dan nanti," kata Taylor.
Selain itu, setiap jenjang pendidikan juga disesuaikan dengan kemampuan siswa. Banyaknya materi soal kemampuan menghadapi masa depan juga dinilai Taylor sebagai salah satu hal yang membuat siswa lebih kreatif.
Sementara itu, Rektor Universitas Pakuan, Bibin Rubini yang juga pemerhati pendidikan mengatakan kurikulum pendidikan di Indonesia terlalu kompleks. "Hal ini jika dibandingkan dengan kurikulum yang ada di negara lain seperti yang diceritakan Dubes Selandia Baru," kata Bibin.
Karena beban kurikulum yang berat, tak hanya siswa yang terbebani, tetapi juga guru dalam mentransfer ilmu juga terbebani. Hasilnya, siswa tidak banyak menguasai suatu materi, begitu pula guru. "Kurikulum mereka (Selandia Baru) simpel, di kita complicated sehingga beban siswa overload," kata Bibin.
Kurikulum di Indonesia yang cenderung fokus pada kemampuan intelektual membuat bakat siswa tidak berkembang. Padahal, sebenarnya bakat siswa bermacam-macam dan tidak bisa dipaksa harus berada di bidang Matematika atau IPA.
"Di kita, yang punya talenta di bahasa tidak bisa berkembang karena dipaksa harus bisa Matematika," lanjut Bibin.
Selain itu, Bibin juga menyoroti soal berkurangnya muatan etika dalam pengajaran yang dilakukan para guru saat ini. "Seharusnya selain peduli pada kemampuan intelektual, juga memerhatikan etika. Soft skill juga merupakan materi yang penting agar siswa bisa bersikap baik dalam kehidupan sehari-hari," ungkapnya.
Akibat materi soft skill yang kurang tergali, dikatakan Bibin, saat ini tawuran serta bentrok makin marak. Selain itu, Bibin juga mengingatkan banyaknya aturan dan ketentuan yang ada dalam sistem pendidikan tidak diimplementasikan.
"Jika dilihat, sistem pendidikan kita tidak jauh berbeda dengan negara lain. Hanya saja, di negara lain diimplementasikan dengan baik, sedangkan di kita hanya sekadar aturan," lanjutnya.
Dicontohkan Bibin, kebijakan sekolah gratis tidak diterapkan dengan baik sehingga masih banyak siswa tidak mampu yang tidak bisa mengenyam pendidikan karena keberatan dengan biaya pendidikan yang mahal. Jadi kebijakan yang ada diimplementasikan dengan baik, terutama soal wajib belajar, maka angka partisipasi kasar pendidikan kita, lanjut Bibin tentu akan semakin meningkat. (A-155/A-89)
Awal kurikulum terbentuk pada tahun 1947, yang diberi nama Rentjana Pembelajaran 1947. Kurikulum ini pada saat itu meneruskan kurikulum yang sudah digunakan oleh Belanda karena pada saat itu masih dalam psoses perjuangan merebut kemerdekaan. Yang menjadi ciri utama kurikulum ini adalah lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.

Setelah rentjana pembelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum Indonesia mengalami penyempurnaan. Dengan berganti nama menjadi Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Yang menjadi ciri dalam kurikulum ini adalah setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964 pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan di Indonesia. Kali ini diberi nama dengan Rentjana pendidikan 1964. yang menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan jasmani.

Kurikulum 1968 merupakan pemabaharuan dari kurikulum 1964. Yaitu perubahan struktur pendiddikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Pemabelajaran diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta pengembangan fisik yang sehat dan kuat

kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Metode materi dirinci pada Prosedur Pengembangan Sistem Instruksi (PPSI). Menurut Mudjito (dalam Dwitagama: 2008) Zaman ini dikenal dengan istilah satuan pelajaran yaitu pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan intruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.

Kurikulum 1984 mengusung proses skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan itu penting. Kurikulum ini juga sering disebut dengan kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan sebgai subyek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan,hingga melaporkan. Model ini disebut dengan model Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan (dalam Dwitagama: 2008).