Menurut
pengarang Manazilus Sa'irin, ada tiga derajat hikmah.
1. Engkau
memberikan kepada segala sesuatu sesuai dengan haknya, tidak melanggar
batasannya, tidak mendahulukan dari waktu yang telah ditetapkan dan tidak
pula menundanya.
Karena segala sesuatu itu mempunyai tingkatan dan hak, engkau harus
memenuhinya sesuai dengan takaran dan ketentuannya. Karena segala sesuatu
mempunyai batasandan dan kesudahan, engkau harus sampai ke batasan itu
dan tidak boleh melampauinya. Karena segala sesuatu mempunyai waktu,
engkau tidak boleh mendahulukan atau menundanya. Yang disebut hikmah
adalah memperhatikan tiga sisi ini.
Ini hukum secara umum untuk seluruh sebab dan akibatnya, menurut
ketentuan Allah dan syariat-Nya. Menyia-nyiakan hal ini berarti
menyia-nyiakan hikmah, sama dengan menyia-nyiakan benih yang ditanam dan
tidak mau menyirami tanah. Melampaui hak seperti menyirami benih melebihi
kebutuhannya, sehingga benih itu terendam air, yang justru akan
membuatnya mati. Mendahului dari waktu yang ditentukan seperti memanen
buah sebelum masak. Begitu pula meninggalkanmakanan, minuman, dan pakaian
merupakan tindakan yang melanggar hikmah danmelampaui batasan yang
diperlukan. Jadi, yang disebut hikmah ialah berbuat menurut semestinya,
dengan cara yang semestinya, dan pada waktu yang semestinya.
Allah telah mempusakakan hikmah kepada Adam dan anak keturunannya. Orang
laki-laki yang sempurna ialah yang mempunyai hak waris secara sempurna
dari ayahnya. Setengah laki-laki, seperti wanita, memperoleh setengah
warisan. Hanya Allahlah yang mengetahui banyaknya perbedaan-perbedaan
dalam masalah ini. Makhluk yang paling sempurna dalam pusakan hikmah ini ialah
para rasul dan nabi. Yang paling sempurna di antara para rasul adalah ulul
azmi. Yang paling sempurna di antara ulul azmi adalah Muhammad
saw. Karena itu, Allah mengaruniakan hikmah kepada beliau dan umatnya,
sebagaimana firman-Nya, "Sebagaimana Kami telah mengutus kepada
kalian rasul di antara kalian, yang membacakan ayat-ayat Kami kepada
kalian danmenyucikan kalian dan mengajarkan kepada kalian al-kitab dan
hikmah, serta mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian
ketahui." (Al-Baqarah: 151).
1. Setiap tatanan alam berkaitan dengan sifat ini, dan setiap celah di ala
mini dan pada diri hamba merupakan penyimpangan dari sifat ini. Orang
yang paling sempurna ialah yang paling banyak memiliki hikmah, dan yang
paling tidak sempurna ialah yang paling sedikit menerima warisan hikmah.
Hikmah mempunyai tiga sendi: ilmu, ketenangan, dan kewibawaan.
Kebalikannya adalah kebodohan, kegabahan, dan terburu-buru.
2. Mempersaksikan pandangan Allah tentang janji-Nya, mengetahui keadilan
Allah dalam hukum-Nya dan memperhatikan kemurahan hati Allah dalam
penahanan-Nya. Artinya, engkau bisa mengetahui hikmah dalam janji dan
ancaman Allah serta menyaksikan hukum-Nya dalam firman-Nya, "Sesungguhnya
Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan
sebesar zarah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari
sisi-Nya pahala yang besar." (An-Nisaa': 40).
Dengan begitu, engkau bisa menyaksikan keadilan Allah dalam ancaman-Nya,
kemurahan Allah dalam janji-Nya, dan semua dilandaskan kepada hikmah-Nya.
Engkau juga bisa mengetahui keadilan Allah dalam hukum-hukum syariat-Nya
dan hukum-hukum alam yang berlaku pada semua makhluk, yang di dalamnya
tidak ada kezaliman dan kesewenang-wenangan, termasuk pula hukum-hukum
yang diberlakukan terhadap orang-orang yang zalim sekalipun. Allah adalah
yang paling adil dari segala yang adil. Allah juga murah hati yang
simpanan-Nya tidak akan berkurang karena pemberian-Nya. Allah tidak
memberikan karunia kepada seseorang melainkan berdasarkan hikmah, karena
Allah Maha Murah hati dan Maha Bijaksana. Hikmah-Nya tidak bertentangan
dengan kemurahan-Nya. Allah tidak meletakkan kemurahan dan karunia-Nya
kecuali di tempat yang semestinya dan sesuai dengan waktunya, sesuai
dengan takdir yang ditentukan hikmah-Nya. Andaikan Allah membentangkan
rezeki untuk semua hamba-Nya, tentu mereka semua akan binasa dan rusak.
Sekiranya Allah mengetahui pada diri orang-orang kafir terdapat kebaikan
dan mau menerima nikmat iman serta syukur kepada-Nya atas nikmat ini,
cinta dan pengakuan kepada-Nya, tentu Dia akan menunjukkan mereka kepada
iman. Karena itu, mereka bertanya kepad orang-orang mukmin,
"Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh
Allah?" Lalu, Allah menjawab dengan firman-Nya, "Tidakkah
Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur
(kepada-Nya)?" (Al-An'am: 53).

Dengan petunjukmu engkau bisa mencapai hakikat, artinya jika engkau
memberikan petunjuk kepada orang lain, engkau bisa mencapai hakikat.
Begitu pula sebaliknya, yaitu jika ada orang lain yang memberi petunjuk,
engkau bisa mencapai hakikat.
Sumber: Madaarijus Saalikiin baina Manaazili Iyyaaka Na'budu wa
Iyyaaka Nasta'iin, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar